5

sebuah catatan amru

Posted by nad
Amru dilahirkan bukan sebagai salah satu generasi emas seperti generasi Shalahuddin Al Ayyubi, tapi paling tidak Amru ingin mengubah dunia menjadi lebih baik dari sekarang seperti pemimpin-pemimpin besar dunia lainnya. Pahlawan-pahlawannya.
Ah tidak, dunia begitu mudah melupakan pahlawan-pahlawannya, Amru bahkan hampir tidak tahu siapa itu Mumia Abu Jamal, beritanya tidak memanas sampai Indonesia, padahal nilai-nilai kemanusiaan seharusnya tetap dibela meskipun Mumia orang Amerika. Untungnya Amru masih dapat mengenalnya melalui buku.

Ah ya, buku, betapa ide-ide sebuah buku dapat menyeberangi samudra dan menembus waktu. Amru sendiri tidak pernah tahu, Mumia masih ada ataupun sudah dieksekusi mati oleh pemerintahan Amerika. Ia hanya membaca pemikiran-pemikiran Mumia yang ditulisnya ketika masih di dalam penjara, The Death Row. Penjara untuk orang-orang yang dieksekusi mati.

Betapa sebuah tetralogi Buru milik Pramoedya Ananta Toer membawanya ke masa kolonial, dan kembali mencintai Indonesia dan optimis pada kelangsungannya. Betapa ‘Pram’ sudah dianggapnya sebagai kakeknya sendiri yang tidak pernah bertemu dengannya.

Sebuah buku karya Andreas Harefa begitu membuka pemikirannya akan kemerdekaan pribadi. Ia tidak dapat membayangkan, apa jadinya hidupnya tanpa buku itu. Buku itu telah mengubahnya, hingga ia menjadi orang merdeka sekarang.

Paulo Coelho juga seorang guru besarnya, yang tidak pernah bertemu dengannya seumur hidupnya, yang berjarak ribuan kilometer dari tempatnya duduk sekarang, tapi beliau mengajarkannya untuk terus bermimpi, dan berjuang mencapai mimpinya itu, apapun yang terjadi padanya.

Bahkan para guru-gurunya tidak menyadari bahwa mereka semua memiliki murid seperti dirinya di sebuah tempat dan bangsa di pojok sini. Mumia Abu Jamal bahkan mungkin hanya sekilas mendengar tentang Indonesia dan memandang rendah orang-orang disini karena tidak berbuat apa-apa kepada muslim Amerika yang dizalimi. Pramoedya Ananta Toer bahkan sudah lama menginggal sebelum Amru mulai membaca karya-karyanya. Paulo Coelho mungkin tidak tahu ada seorang bocah disini yang begitu mengagumi The Alchemist, dan berpikir ingin menjadi seperti Santiago, bocah yang mengikuti mimpi-mimpinya. Tapi paling tidak Andreas Harefa seorang Indonesia, dan pernah juga memakai jas almamater yang sama seperti miliknya.

Tapi sekarang sangat sulit bagi Amru untuk mendapatkan buku-buku berkualitas, buku-buku yang beredar dipasaran hanya berisi omong kosong. Mereka kosong plong tanpa kehidupan baru yang ditawarkan, dan terjual menjadi best seller pun sebuah kenyataan yang memalukan, Betapa sia-sianya pohon-pohon dari hutan-hutan Indonesia yang semakin lama semakin habis dijadikan kertas untuk mencetak buku-buku omong kosong seperti itu.

Pernah bahkan sebelum membaca Tetralogi Buru, Amru merasa setengah mati heran, mengapa empat buah novel, hanya novel, dapat membuat seorang Pram dipenjara, dapat membuatnya dipisahkan bertahun-tahun dari keluarganya. Seharusnya Pram dipenjara untuk artikel-artikelnya, untuk kata-katanya yang lantang, atau seperti itu. Tapi empat buah novel? Sebuah novel menurutnya hanya sebuah omong kosong yang ditulis pada ribuan lembar kertas. Tapi akhirnya Amru membaca dan betapa jatuh cintanya ia pada kemampuan Pram memasukkan ideologi-ideologi hebat pada novel yang dibuatnya.

Mana ada tulisan sebegitu bagusnya jaman sekarang. Mana ada orang yang bisa membuat novel sebegitu bagusnya lagi. Atau sebagus buku-buku guru-gurunya tadi. Amru kesal sendiri, perbukuan di Indonesia sudah dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Di daerah-daerah Jogja hingga Jawa Tengah misalnya, betapa buku, benda paling mulia dalam sejarah pengetahuan umat manusia, dijadikan alat penambah harta kekayaan para penguasa daerah. Tender buku-buku pelajaran di daerah-daerah menjadi rebutan, karena penyusunannya dan percetakannya mengadakan kong kalikong dengan pejabat setempat. Oh please! Betapa hinanya!

Amru memang sering berjalan-jalan ke toko buku. Sebelumnya dia pikir toko buku adalah toko paling idealis sedunia, karena masih bertahan untuk menyebarkan ilmu pengetahuan pada rakyat, paling tidak melalui buku yang dijualnya, padahal toko-toko lain memilih jalan yang berbeda dan yang lebih mudah mendapatkan hasil instan khas jaman sekarang, seperti restoran atau supermarket misalnya. Tapi akhirnya semua pandangan positif sebuah toko buku hancur seketika, ketika semua buku di toko buku dibungkus rapi dan diplastik tanpa boleh dibuka. Beberapa toko buku bahkan hanya menyediakan etalase kaca panjang, dan pengunjung hanya boleh melihatnya dibalik kaca, dan baru bertanya tentang sebuah buku hanya kalau benar-benar ingin membelinya. Apakah pengetahuan yang ada di buku hanya boleh dimiliki oleh orang-orang kaya yang mampu membeli buku yang mereka suka? Amru pikir, hanya toko buku yang masih idealis, tapi tidak, semuanya sudah dikuasai kepentingan masing-masing. Kapitalisme sudah menyebar kemana-mana, bahkan pada toko-toko buku.

Bagaimana mungkin ada sebuah konspirasi besar disini yang melarang pembeli melihat apa isi sebuah buku sebelum membelinya? Apakah ideologi yang dianut sebuah toko buku adalah pembeli hanya boleh membeli buku dalam plastik yang berarti membeli kucing dalam karung? Apakah ini tidak merugikan hak-hak konsumen?

Amru memang sedih ketika hanya bisa melihat sampul depan dan sampul belakang sebuah buku, tapi keprihatinan itu semua belum cukup. Banyak buku yang Amru lihat, memiliki cover yang hampir sama, judul buku yang hampir sama, bahkan nama pengarang juga hampir sama. Sebelumnya Amru sempat berpikir bahwa pengarang-pengarang ini memang kembar dan orang yang mendisain cover-cover buku ini orang yang sama, yah mungkin saja desainer cover ini merasa tidak perlu bersusah-susah mencari ide untuk cover yang baru. Tapi setelah tahu yang sebenarnya, bahwa buku-buku itu merupakan buku-buku epigon, Amru menjadi muak dan nyaris muntah karena begitu sedihnya. Buku-buku epigon, buku-buku pengikut sebuah karya yang sudah menjadi best seller. Karena kesuksesannya, dan besarnya kekayaan penulisnya setelah terkenal, banyak orang yang melakukan hal yang sama, termasuk membuat karya yang dimirip-miripkan. Hina sekali!
Padahal arti buku itu lebih dari sebuah alat unuk terkenal bahkan untuk kaya. Rendah sekali orang berpikir seperti itu. Buku itu bermakna lebih dalam lagi. Buku bukan hanya sekedar beberapa ons kertas, lem dan tinta yang tercetak diatasnya, namun buku itu adalah penawaran ideologi pemikiran tentang kehidupan yang baru. Begitu yang pernah ditulis Andreas Harefa dalam buku Menjadi Manusia Pembelajar.

Tapi Amru menyadari sesuatu, mengapa buku-buku hebat seperti karya-karya Pram tidak ada yang memirip-mirip kan? Bukankah buku itu buku hebat yang pasti banyak orang yang suka membaca buku jenis itu? Dan pastinya laku? Lihat saja betapa banyak penghargaan yang diberikan pada Pram untuk Tetralogi Buru. Ditulis pun menjadi berlembar-lembar halaman. Menurut Amru, sebuah karya bahkan kelihatan lebih berharga bila sangat rendah hati seperti karya-karya Pram yang menuliskan penghargaan di halaman paling belakang buku, dan bukannya ditulis di cover padahal hanya sebuah tulisan Best Seller. Toh semua orang tahu, karya-karya Pram pastilah semuanya Best Seller.

Mungkin buku-buku Pram merupakan buku-buku hebat, yang pada saat membuatnya bahkan menghabiskan bertahun-tahun kehidupan Pram, dan menghabiskan energi yang besar dari pengarangnya. Ah ya, Amru pernah merasakan hal itu, ia pernah menulis sebuah cerpen yang menurutnya merupakan karya terbaiknya selama ini. Amru tidak berhenti menulis, hingga akhirnya menangis bahagia karena telah menyelesaikannya, ia lelah sekali dalam pembuatannya. Padahal hanya sebuah cerpen. Ia tahu sekarang, orang-orang itu tidak sanggup meniru karya-karya sehebat Pram, Mumia Abu Jamal, Andreas Harefa ataupun Paolo Coelho. Karena karya-karya mereka begitu hebat dan melalui proses yang sangat berat. Bagaimana mungkin orang-orang yang suka meniru itu, yang hobinya menjiplak dan instan sanggup melakukan hal seberat itu? Tidak mungkin. Amru tertawa meremehkan.

Buku-buku lain yang Amru lihat juga tidak ada bedanya antara satu dengan yang lain. Meskipun covernya berbeda dan penulisnya tidak meniru-niru, tapi cerita mereka sama-sama ringan. Sama-sama omong kosong menurutnya. Ada buku tidak penting yang terjual jutaan kopi padahal yang ditawarkannya hanya untuk tertawa setelah itu selesai. Ada buku-buku yang tidak penting lainnya yang juga mengikuti buku-buku tidak penting yang lain.

Baiklah Amru tahu masih ada banyak orang idealis di luar sana yang berusaha menyelamatkan bangsa ini dengan bukunya. Tapi memang orang-orang itu tidak seberapa. Dan kebanyakan mereka tergerus oleh industrialism perbukuan, begitu kata seorang penulis. Ahya, semuanya tergantung pasar.

Ada orang yang bilang, Amru terlalu sombong dengan semua ocehannya, dengan semua ke-sok-idealisannya. Katanya Indonesia sejak dulu kala adalah bangsa dengan tradisi lisan, bukan tulisan yang selama ini diagungkannya. Tapi apa, Amru balas, apa yang dimiliki bangsa ini dengan lisannya? Tradisi bercerita dan mendongeng sekarang sudah luntur. Tradisi wayang di Jawa pun bahkan teman Amru itu tidak pernah menontonnya sampai selesai. Lantas apa lagi kalau bukan buku? Lantas apalagi yang bisa dilakukan kalau bukan meningkatkan kualitas bacaan di Indonesia?

Orang-orang idealis yang berusaha membangun lingkungan membaca di lingkungan rumahnya pun, beberapa kali dipandang negatif oleh warga, karena dinggap ingin terlihat terkenal atau semacam pamer banyaknya buku yang dimiliki. Hah, kenapa semua orang tidak bisa diajak bekerja sama untuk membangkitkan bangsa ini. Paling tidak untuk aspek buku saja di Indonesia. Kenapa semua orang masih mementingkan diri sendiri.

Dada Amru bergolak. Ia marah, tapi ia tidak tahu pasti marah pada siapa. Tidak ada orang yang sepenuhnya bertanggungjawab atas semua kejadian rendahan ini. Dan perjalanannya membawa perbaikan bagi seluruh dunia memang masih sangat panjang untuk selesai.

Nadia Aghnia Fadhillah
Jogjakarta, 8 Juni 2008
Benar kata Paulo Coelho, tulisan ini menulis sendiri, aku hanya mengetikkannya di komputer, sebelumnya tidak menyangka tulisan ini akan jadi enam halaman.

8

seratus puisi untuk negeri

Posted by nad


BEM KM UGM hari Rabu, 4 Juni 2008 kemarin mengadakan aksi damai pembacaan puisi untuk menolak kenaikan BBM. Mahasiswa sendiri sudah muak berdemonstrasi di jalan-jalan namun tidak digubris pemerintah. Apalagi dengan pandangan negatif demonstrasi anarki yang selama ini terjadi lagi. Beberapa mahasiswa juga sudah mual melihat mahasiswa-mahasiswa lain yang tidak peduli bahkan mencibir demonstrasi menentang kenaikan BBM.

Adanya kenyataan bahwa pemerintah baru tahu kondisi rakyatnya setelah membaca dari surat kabar terdengar begitu menyedihkan. Berita tentang seorang balita terkena busung lapar atau musibah demam berdarah atau yang lainnya, pemerintah baru tahu dari surat kabar. Dan begitu juga sebuah tindakan demonstrasi terekspos di media, pemerintah pasti akan tahu.
Hal itu mendorong BEM KM UGM untuk merubah format aksi-aksi selanjutnya. Sebuah aksi baru diekspos media dan didengar pemerintah jika aksi itu menampilkan aksi teatrikal dan sebagainya atau malah sekalian anarkis. Tapi tidak, tujuan demonstrasi adalah menyampaikan aspirasi, dan tidak perlu dengan anarkis. Akhirnya konsep yang dipilih untuk aksi kali ini adalah pembacaan puisi.

“ Selama ini demonstrasi jarang digubris pemerintah, makanya demonstrasi dilakukan dengan seni, sepeti membaca puisi seperti ini. Kalau pemerintah tetap tidak memperhatikan, nurani mereka memang sudah mati,” begitu kata Budiyanto, Presiden BEM KM UGM.

Aksi dimulai pukul 10:00 pagi di Bunderan UGM dan mengundang beberapa tokoh masyarakat yang bersedia membacakan puisi yang dibuatnya masing-masing. Teman-teman yang membawa puisi dan yang berminat membacakannya pun diberi kesempatan naik.
Aksi damai seperti ini bukan hanya menghindari tindakan anarkis, tapi juga menghindari penunggangan kepentingan dan provokator. Semoga aksi damai teatrikal seperti ini juga dilakukan pihak-pihak lain yang berusaha menyampaikan aspirasinya pada pemerintah.

Nadia Aghnia Fadhillah


Beberapa baris puisi yang aku ingat:
Aku Malu Jadi Mahasiswa
(mas siapa aku lupa, dia dari Hukum)


Aku malu jadi mahasiswa,
Ketika melihat penderitaan rakyat,
Aku hanya bisa diam saja,

Aku malu jadi mahasiswa,
Ketika melihat para demonstran,
Aku hanya mentertawakannya,
Aku malu jadi mahasiswa,
Ketika pejabat di atas sana korupsi uang rakyat,
Aku juga berfoya-foya korupsi uang orangtuaku,

4

Dua Puluh Empat Jam

Posted by nad
Setiap orang diberikan waktu yang sama dalam sehari. Dua puluh empat jam. Tapi penggunaan waktu mereka berbeda-beda tergantung orang itu sendiri. Ada yang merasa sehari waktu dua puluh empat jam itu tidak cukup, atau ada bahkan yang merasa dua puluh empat jam terlalu lama. Einstein bilang kecepatan itu relative, tapi orang-orang juga bilang waktu itu relative.

Terlalu lama atau terlalu cepat dua puluh empat jam itu memang tergantung dengan seberapa banyak kegiatan yang dilakukan seseorang. Seberapa besar atau kecil efek dari kegiatan yang dilakukan. Seberapa lama kegiatan itu dilakukan.

Menunggu itu membuat waktu terasa lebih lama. Tapi tidur itu membuat waktu terasa lebih cepat. Mengerjakan tugas dengan dikejar deadline membuat waktu terasa cepat. Tapi mendengarkan kuliah yang membosankan membuat waktu terasa berjalan lambat.
Tapi dua puluh empat jam tiap orang bisa berbeda-beda.

Rasulullah tidur hanya empat jam sehari, selebihnya berdakwah. Mungkin berada dalam kajian-kajian bersama para sahabatnya, mungkin berada di rumah-rumah orang miskin yang beliau santuni, mungkin berada dalam rumahnya sedang shalat, mungkin seharian mengembala domba saat masih remaja. Atau banyak kegiatan lain.

Banyak orang biasa yang juga punya waktu sama seperti semua orang di dunia ini, dua puluh empat jam, tapi orang-orang biasa itu banyak menghasilkan sesuatu yang besar dalam hari-harinya. Tidur hanya sebentar, bangun pagi-pagi sekali untuk beribadah, atau untuk bekerja, atau untuk belajar. Dan seharian bekerja, belajar, atau beribadah seperti kita, tapi malamnya mereka tidur lebih larut malam untuk bekerja, belajar, atau beribadah. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau atau tidak bisa tidur lebih lama dari beberapa jam itu.

Tapi adalagi orang yang seharian hanya makan, tidur, dan bermain. Bangun tidur, makan, dan bermain tanpa melakukan apa-apa. Lalu tidur lagi, dan besok begitu lagi. Seterusnya. Mereka belum tahu apa yang bisa mereka lakukan dalam hidup mereka selain itu.

Tapi yang paling penting dari semua itu adalah, tiap detik, tiap jam, tiap dua puluh empat jam per hari, tiap bulan, tiap tahun, bahkan hidup kita, akan dipertanggungjawabkan suatu saat nanti. Entah apapun kegiatan yang kita lakukan selama ini semuanya akan ditanyakan. Tidur, main game, smsan, jalan-jalan, kuliah, hunting foto, atau yang lain. Semuanya dipertanggungjawabkan.

Setiap orang memang diberi bekal dua puluh empat jam yang sama dalam sehari. Tentang
bagaimana memanfaatkannya, semuanya kembali pada masing-masing orang bagaimana kebutuhan dirinya, apa yang bisa dilakukannya, apa kewajibannya. Pasti yang paling tahu semua itu adalah pribadi masing-masing. Dan ya, semuanya dipertanggungjawabkan.

4

amunisi untuk perlawanan

Posted by nad
Semua orang tahu bahwa sejak akhir Mei 2008 ini pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM dan pada akhirnya harga barang-barang pokok pasti akan ikut melonjak naik. Ada yang mengalami kenaikan hanya beberapa rupiah saja, hingga ada yang mencapai dua kali lipat dari harga sebelumnya. Semua orang tentu saja protes, karena pendapatan tidak kunjung meningkat.

Tapi tidak semuanya, biasanya disaat-saat seperti ini, ada beberapa pihak yang dengan tidak tahu dirinya memperjuangkan kenaikan gaji mereka yang padahal sudah berlimpah itu dengan uang rakyat.

Tentu saja orang yang dimaksudkan adalah wakil-wakil kita diatas sana. Sekarang memang belum terdengar permintaan kenaikan gaji para anggota-anggota yang terhormat itu. Namun, kita tentu saja tidak bisa melupakan sejarah. Dan tulisan ini dipersiapkan untuk memberikan amunisi awal berupa data-data tentang pendapatan para dewan yang terhormat selama ini, dan akan siap diledakkan ketika mereka sudah meminta dengan terbuka beberapa bulan lagi saat rapat perencanaan anggaran belanja masing-masing pada akhir tahun nanti.

Berikut data-data keuangan yang didapatkan dan yang diperjuangkan para anggota dewan selama tahun 2003 dan sebelumnya.

Bantul-Yogyakarta, pada tahun 2000 sebuah kunjungan dinas dewan kabupaten Bantul menghabiskan dana sekitar Rp 90juta.

Tangerang, sekitar tahun 2000 rata-rata pendapatan seorang anggota dewan sekitar Rp 700ribu per hari, padahal rata-rata pendapatan warganya hanya Rp 58ribu perhari. Anggaran pengadaan mebel yang didapat tiap anggota DPR sekitar Rp 100juta dan diberikan sebagai uang tips tahunan. Tiap anggota dewan juga mendapatkan uang pelicin untuk menerima LPJ Bupati selama 4 kali dan masing-masing Rp 25juta.

Malang, akhir 2002, hutan kota seluas 28,5 hektar dirubah untuk pemukiman yang tendernya dimenangkan oleh pengembang, padahal keputusan dalam dewan belum fix tapi tanah sudah diratakan.

Magetan, di kota kecil itu, yang gaji standar seorang anggota dewan sekitar Rp 2,1juta, para anggota dewannya meminta gaji awal Rp 4juta perbulan dan disetujui. Lalu dinaikkan lagi mencapai Rp 7,5 juta. Dan puncaknya Februari 2003, para dewan legislative di Magetan mengadakan kunjungan ke Batam, padahal sifat kota Magetan sebagai penghasil kerajinan tangan sangat berbeda dengan Batam sebagai kota industri. Lalu dianggaran kunjungan Rp 10juta per anggota yang biasa, anggota yang tidak “biasa” lebih besar lagi. Yang tidak ikut tetap mendapatkan dana kunjungan.

Sumatra Selatan, adanya fasilitas perumahan yang dianggarkan dalam APBD sebesar Rp 75juta per anggota legislatif. Terdapat perbedaan yang sangat jauh antara jumlah gaji anggota legislative kabupaten, gajinya hanya Rp 700ribu, tapi gaji anggota legislative kota sebesar Rp 9,3juta, padahal yang layak hanya Rp 5juta.

Sumatra Selatan, sebuah perjalanan dinas pada pertengahan Juli 2003 yang dalam prakteknya hanya bagi-bagi duit, tiap anggota mendapatkan Rp 25juta. Dan setelah disahkannya APBD 2003, dibagikan uang tunjangan operasional sebesar Rp 100juta per anggota.

Bengkulu, memiliki pendapatan daerah PAD 2003 sebesar Rp 45miliar rupiah. Namun dalam APBD alokasi biaya pendidikan hanya sekitar 4,9% turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 5% dari total APBD. Padahal, tiap anggota dewan mendapatkan kendaraan operasional yang berupa sebuah mobil yang dianggarkan Rp 80juta per orang, jumlah annggota dewan 45 orang (@Rp 80juta) bernilai hampir Rp 4milliar. Itu berarti sama saja memotong 10% PAD.

Bogor, tiap walikota tiap tahun membuat Lembar Pertanggung Jawabannya kepada DPR Kota, untuk diterima atau ditolak. Dan walikota Bogor saat itu, Iswara Natanegara, memberikan dana sekitar 1,6 milyar untuk meluluskan LPJnya.
Banten, tunjangan rumah tiap anggota DPRD sebesar 100juta.

Jawa Barat, pada awal tahun 2000, penyimpangan uang pajak penerangan jalan umum besarnya hampir 54 miliar. Dan terjadi kavlinggate (orang Bandung mengenalnya dengan kadeudeuh) merupakan ungkapan terimakasih karena PAD (pendapatan asli daerah) naik dari target 450 milliar menjadi 750miliar. Namun beberapa bulan kemudian dana terimakasih muncul lagi. Dan karena mencurigakan, di blow up di media.

Jawa Tengah, dana mobilitas anggota dewan 95 juta pertahun (diketahui ketua dewan mobilnya lima, ketiga wakil dewan masing-masing memiliki tiga mobil). Karena periode anggota dewan sudah hampir habis, para anggota yang terhormat itu menganggarkan dana purnabakti sebesar 100juta per anggota. Padahal gaji mereka tiap bulan sudah sebesar 12juta.

Bukan berarti daerah-daerah lain tidak ada kecurangan, melainkan yang terbuka ke media hanya beberapa kasus. Dan yang mampu dimuat dalam buku saku kecil yang aku pinjam dari Mba Kiki ini hanya mampu menampung beberapa kasus.

Lagipula, buku ini diterbikan unuk kepentingan partai politik tertentu yang tidak berhak aku sebut disini, untuk mendapatkan dukungan pada pemilu 2004. Tapi data-datanya akurat, aku yakin.

Ini memang data-data lima tahun yang lalu, tapi untuk tahun-tahun sekarang, masih adakah kecurangan-kecurangan semacam itu? Mari mengingat kembali saat awal periode ini, tiap anggota DPR diberikan laptop untuk menunjang pekerjaannya, tiap anggota satu. Atau ada yang lain namun tidak ter blow-up karena tidak ada yang memperjuangkan? Bagaimana juga dengan besok? Kita lihat saja.

NADIA AGHNIA FADHILLAH
www.nadanakaneh.blogspot.com

BIBLIOGRAPHY
Akbar, Subhan, dkk. 2003. Mereka Melawan Korupsi. Jakarta: Penerbit Pustaka Saksi.

6

QUIT TOBACCO

Posted by nad
Aku memang ga ikut acaranya anak-anak kedokteran kampanye anti rokok yang aku bilang di postingan di bawah. Tapi aku dapet transferan dari Woki, dia ikut kemaren. Meskipun temen-temen ngga yakin Woki ngga ngerokok, tapi kemaren dia ikut aksi anti rokok. Terserah dia lah mau bohong apa ngga. Yang penting aku diceritain kemaren ngapain aja.

Woki bilang kemaren aksi di bunderan kampanye anti rokok. Kampanyenya keren. Soalnya dapet sarapan dua bungkus roti (lumayan di jaman susah begini). Dan yang paling penting, dapet kaos gratis kampanye anti rokok. Kaosnya bagus. Aku nyesel ga ikutan. T.T Gambar kaosnya ini aku sertakan di bawah. Tampak depan dan belakang. Itu badannya Woki, meskipun dia minta difoto wajahnya, tapi aku gamau, ntar blogku kena sensor. ^O^




Bagus kan kaosnya? Makanya dari sini bakal berusaha ngdapetin kaos begituan juga. Pengen juga? Siapa tau masih ada yang tersisa buat kita. Hoho.
info selanjutnya bisa didapatkan di www.quittobaccoindonesia.net

Copyright © 2009 nad anak aneh All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.